Dilema Semangkuk Bakso



Kemarin tiba-tiba saya jadi pingin banget makan semangkuk bakso pedas panas . Duh ,, di korea ini pingin-pingin seperti itu sebuah harga mahal. Kok ya mahal? Ketiadaan abang-abang bakso di korea yang dekat rumah yang membuat semuanya menjadi  mahal. Ada beberapa imajinasi yang saya pikirkan dalam menghadirkan semangkuk bakso di rumah ,,

1.       Buat bakso sendiri. Sudah terbayang prosesnya yang panjang, pertama harus membeli daging di itaewon. Setelah itu pastinya diolah dan di masak sendiri. Saya sudah beberapa kali membuat bakso homemade ya tapi kok rasanya belum ada yang pas di lidah (pas di lidah menurut saya adalah mendekati rasa bakso yang di jual di warung-warung bakso Indonesia). Kelebihan buat bakso sendiri saya bisa hemat dan pastinya dapat porsi yang lebih banyak (timbangan mana timbangan) dan yang paling utama adalah suamiku pasti senang karena istrinya mau bersusah payah untuk tidak jajan.
2.       Beli. Tentunya pasti lebih mahal. Selain itu pesan sekarang baru bisa datang 2-3 hari lagi. Mana sabar menunggu selama itu.

Akhirnya saya memutuskan pergi ke itaewon. Pas sekali siang itu saya video call dengan bunda kireina. Si bunda pun merasakan hal yang sama. Dia pingin makan semangkuk atau lebih indomie yang gurih-gurih pedas. Berangkatlah para ibu dan bunda ceria ini ke sana. Saya dan bunda janjian di depan lift stasiun itaewon, tapi ya karena hp saya yang tidak bisa dihubungi, saya dan bunda miss persepsi soal si lift ini. Saya tunggu di lift paling bawah dan si bunda menunggu di lift paling atas. Hampir satu jam saya menunggu sambil berusaha mengalihkan perhatian yasmin agar tidak bt. Pada akhirnya saya memutuskan untuk mencoba mesin otomatis penjual minuman kemasan dan kopi dalam cup (selama di sini belum sekalipun mencoba mesin itu). Alhamdulillah Allah menggerakan hati si bunda untuk turun ke lift bawah. Akhirnya kami bertemu di depan lift itu. Kenapa saya tidak ada kepikiran untuk naik ke atas, malah asyik-asyikan main di bawah. Maafkan saya dan hp saya yang bermasalah ya bunda.
Langsunglah capsus naik ke atas untuk belanja dan ikutan sholat di masjid itaewon. Alhamdulillah qodarullahnya lagi, ketika sampai di parkiran masjid saya bertemu bu devi dan icha yang baru pulang dari tempat kerjanya. Selesai sholat dan ini itu anak2 berjalanlah kami para mamak2 ini berbelanja. Tapi sebelum berangkat kami para mamak2 yang  sudah tidak sabarmenikmati semangkuk bakso hangat pedas dan segar sudah menetapkan akan berkunjung ke salah satu kedai mandu yang punya menu ramyeon halal. Dalam pikiran ini sudah terbayang-bayang nikmatnya.
Sesampainya di kedai tersebut saya dan bu devi langsung mendelegasikan bunda untuk interview penjaga kedai mengenai kehalalannya. Apakah benar si ramyeon ini tidak mengandung apapun yang tidak halal. Berdua bu devi saya HHC (harap harap cemas). Sementara itu anak-anak sudah duduk manis di kursi masing-masing. Bunda pun menengok ke arah kami sambil tersenyum. “aman bu” katanya begitu.
Setelah bayar ramyeon bunda mengambil kimchi dan lobak kuning di pojok kedai. Tiba-tiba dia datang dengan muka terkejut dan sedih. “bu ini ternyata pakai mie instant yang mengandung dwejigogi, aku tadi liat si ibu yang jual lagi masak mie itu”. Perkataan yang seperti petir di siang bolong. Saya dan bu devi hanya melongo keheranan, Bubar sudah bayang-bayang indah semangkuk ramyeon panas. Alhamdulillah wasyukurilah Allah masih melindungi para mamak-mamak ini dari makanan yang tidak halal.
Dalam hati saya berjanji insyaallah tidak akan jajan-jajan di tempat yang tidak resmi halal tanpa benar-benar tau kandungan makanannya. Semoga Allah SWT selalu menjaga hasrat jajan saya yang sering terlalu menggebu-gebu ini dan juga melindungi saya dan keluarga dari makanan yang di larang dalam islam.
Akhir kata, 3 bungkus  ramyeon yang udah terlanjur di beli kami bungkus dan kami hadiahkan kepada bapak – bapak penjual odeng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

cerita diabetes gestasional

Bismillahirrahmanirrahim Sebulan terakhir ini ada sebuah pengalaman yang saya ingin ceritakan. Pengalaman kali ini sarat akan makna...